Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

HARGA

GRAFIK DINAR

GRAFIK DINAR

INFO GERAI

HARI INI ADA CLIENT KAMI YANG INGIN MENJUAL DINAR LESS 1% SEBANYAK 88 DINAR, BAGI YANG BERMINAT SEGERA HUBUNGI KAMI, AKAN KAMI BERIKAN UNTUK PEMINAT PERTAMA.

JADWAL PELAYANAN Jam & Hari Kerja : 08.00 - 16.30 (BBWI) ; Senin - Jum'at (kecuali hari libur nasional). Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi di nomer 085693010101 dan 02128567499

ARTIKEL TERBARU
Tuesday, September 21, 2021
Dalam standar penamaan bahan kosmetik, INCI (International Nomenclature of Cosmetic Ingredients) - Virgin Tamanu Oil...
Tuesday, September 21, 2021
Setelah kami perkenalkan dalam unggahan sebelumnya Trio Nuoils yaitu Virgin Tamanu Oil (VTO), Crude Tamanu Oil (CTO)...
Sunday, September 19, 2021
Distributed Ledgers Technology (DLT) - yang intinya binary data yang tersimpan dalam sejumlah besar penyimpan , yang...
Sunday, September 19, 2021
Nama genus tanaman ini adalah Abelmoschus, bahasa latin yang diturunkan dari bahasa Arab Abu Misk yang artinya...
Friday, September 17, 2021
Anda para jawara pemasaran yang sudah malang melintang memasarkan produk-produk orang lain, pastinya sudah sering...
Thursday, September 16, 2021
Drop-in biofuels adalah bahan bakar hydrocarbon - persis bahan bakar fosil yang kita pakai sekarang, hanya kita...
VIDEO TERBARU
DESKRIPSI
Memasak dengan bahan bakar biji Nyamplung....
VIDEO TERBARU

INTRO GREEN WAQF

VIDEO

EDUKASI WAKAF

VIDEO

LAUNCHING GREEN WAQF

VIDEO

PENDAFTARAN WAKAF TRAINING

VIDEO

Saya pernah menulis tentang Quantitative Easing ini di bulan Maret 2009 ketika dunia sedang berada di puncak krisis finansial. Saya tulis kembali sekarang dengan judul Quantitative Easing 2 (QE 2) sebagaimana para pengamat ekonomi menyebutnya akhir-akhir ini, karena mulai bermunculannya wacana atau lebih tepatnya analisa kemungkinan beberapa bank sentral dunia melakukannya lagi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

 

Quantitative Easing adalah kebijakan bank sentral untuk menambah supply uang dengan meng-credit-kan di account-nya sendiri uang dalam jumlah besar secara ex-nihilo atau out of nothing atau dalam bahasa kita dari awang-awang. Bahkan uang ini juga tidak perlu dicetak, karena cukup di entry di account bank central – bahwa uang mereka bertambah – maka bertambahlah uangnya.

 

Uang yang diketikan dari awang-awang ini kemudian beredar melalui apa yang disebut open market operation, yaitu ketika uang (yang hanya ada di data komputer) tersebut kemudian bener-bener digunakan untuk membeli financial assets berupa government bonds, corporate bonds dlsb. serta  mengalir ke bank-bank dan institusai finansial lainnya.

 

Langkah bank-bank sentral melakukan quantitative easing ini tidak terlalu bermasalah selagi pelaku pasar dan pengguna uang pemerintah tersebut masih mempercayainya. Masalahnya adalah ketika hal ini semakin sering dilakukan – maka nilai mata uang dari negara tersebut akan terus tergerus dengan cepat dan merugikan siapapun yang memegangnya.

 

China misalnya yang memegang US$ terbesar, sejak beberapa tahun terakhir mulai khawatir akan menurunnya daya beli asset mereka yang berupa US$ tersebut. Karena kekawatiran inilah maka China terus mendiversifikasi cadangan devisanya dari US Dollars, mereka kini aktif membeli mata-uang- mata-uang negara lain selain AS, seperti Jepang, Thailand, Korea dan bahkan beberapa negara latin.

 

Pemerintah China dan perusahaan-perusahaan negara-nya juga mulai mengumpulkan asset riil diluar mata uang. Di antara yang mereka kumpulkan adalah  emas, biji besi, cadangan gas, batu bara dan bahkan cadangan kayu dari hutan-hutan di Guyana. Dari perbagai persiapan ini, maka bila nilai US$ terus mengalami penurunan – dan bahkan suatu saat bisa bener-bener kehilangan nilainya sama sekali , maka bisa jadi China adalah negara yang paling siap menghadapinya. China bahkan juga sudah mendorong dan memfasilitasi rakyatnya  untuk rame-rame membeli emas.

 

Paling tidak langkah China ini pasti menggembirakan rakyatnya karena setahun terakhir rakyat China yang memindahkan tabungan US$-nya menjadi emas mengalami keuntungan rata-rata sekitar 30% - yaitu rata-rata appresiasi harga emas dunia dalam US$ setahun terakhir.

 

Dengan semakin ramenya wacana atau analisa akan kemungkinan terjadinya Quantitative Easing Gelombang ke 2 (QE 2), sangat mungkin trend kenaikan harga emas dunia masih akan terus berlanjut – apalagi minggu ini kita sudah akan memasuki bulan September – dimana kenaikan harga emas musiman biasa juga terjadi.

 

Bila China beserta rakyatnya telah melakukan antisipasi yang proper terhadap kebijakan negara lain terhadap uangnya – khususnya AS, mengapa tidak kita juga “belajar sampai negeri China” dalam pengelolaan asset ini ?. Wa Allahu A’lam.