GeraiDinar.com

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 19 November 2019

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Wed, 20 Nov 2019 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,652,919 Beli Rp. 2,546,802

  • Harga Dinar Emas per Tue, 19 Nov 2019 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,639,345 Beli Rp. 2,533,771

  • Harga Dinar Emas per Tue, 19 Nov 2019 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,644,578 Beli Rp. 2,538,795

  • Harga Dinar Emas per Tue, 19 Nov 2019 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,645,035 Beli Rp. 2,539,234

  • Harga Dinar Emas per Tue, 19 Nov 2019 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,647,257 Beli Rp. 2,541,367

Antisipasi Quantitative Easing 2 : Belajar Sampai Negeri China...

Quantitative Easing adalah kebijakan bank sentral untuk menambah supply uang dengan meng-credit-kan di account-nya sendiri uang dalam jumlah besar secara ex-nihilo atau out of nothing atau dalam bahasa kita dari awang-awang. Bahkan uang ini juga tidak perlu dicetak, karena cukup di entry di account bank central – bahwa uang mereka bertambah – maka bertambahlah uangnya.

 

Uang yang diketikan dari awang-awang ini kemudian beredar melalui apa yang disebut open market operation, yaitu ketika uang (yang hanya ada di data komputer) tersebut kemudian bener-bener digunakan untuk membeli financial assets berupa government bonds, corporate bonds dlsb. serta  mengalir ke bank-bank dan institusai finansial lainnya.

 

Langkah bank-bank sentral melakukan quantitative easing ini tidak terlalu bermasalah selagi pelaku pasar dan pengguna uang pemerintah tersebut masih mempercayainya. Masalahnya adalah ketika hal ini semakin sering dilakukan – maka nilai mata uang dari negara tersebut akan terus tergerus dengan cepat dan merugikan siapapun yang memegangnya.

 

China misalnya yang memegang US$ terbesar, sejak beberapa tahun terakhir mulai khawatir akan menurunnya daya beli asset mereka yang berupa US$ tersebut. Karena kekawatiran inilah maka China terus mendiversifikasi cadangan devisanya dari US Dollars, mereka kini aktif membeli mata-uang- mata-uang negara lain selain AS, seperti Jepang, Thailand, Korea dan bahkan beberapa negara latin.

 

Pemerintah China dan perusahaan-perusahaan negara-nya juga mulai mengumpulkan asset riil diluar mata uang. Di antara yang mereka kumpulkan adalah  emas, biji besi, cadangan gas, batu bara dan bahkan cadangan kayu dari hutan-hutan di Guyana. Dari perbagai persiapan ini, maka bila nilai US$ terus mengalami penurunan – dan bahkan suatu saat bisa bener-bener kehilangan nilainya sama sekali , maka bisa jadi China adalah negara yang paling siap menghadapinya. China bahkan juga sudah mendorong dan memfasilitasi rakyatnya  untuk rame-rame membeli emas.

 

Paling tidak langkah China ini pasti menggembirakan rakyatnya karena setahun terakhir rakyat China yang memindahkan tabungan US$-nya menjadi emas mengalami keuntungan rata-rata sekitar 30% - yaitu rata-rata appresiasi harga emas dunia dalam US$ setahun terakhir.

 

Dengan semakin ramenya wacana atau analisa akan kemungkinan terjadinya Quantitative Easing Gelombang ke 2 (QE 2), sangat mungkin trend kenaikan harga emas dunia masih akan terus berlanjut – apalagi minggu ini kita sudah akan memasuki bulan September – dimana kenaikan harga emas musiman biasa juga terjadi.

 

Bila China beserta rakyatnya telah melakukan antisipasi yang proper terhadap kebijakan negara lain terhadap uangnya – khususnya AS, mengapa tidak kita juga “belajar sampai negeri China” dalam pengelolaan asset ini ?. Wa Allahu A’lam.