GeraiDinar.com

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 23 Oktober 2018

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 23 Oct 2018 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,396,318 Beli Rp. 2,300,465

  • Harga Dinar Emas per Tue, 23 Oct 2018 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,378,746 Beli Rp. 2,283,596

  • Harga Dinar Emas per Tue, 23 Oct 2018 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,370,560 Beli Rp. 2,275,738

  • Harga Dinar Emas per Tue, 23 Oct 2018 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,369,543 Beli Rp. 2,274,761

  • Harga Dinar Emas per Mon, 22 Oct 2018 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,372,694 Beli Rp. 2,277,786

Positioning Riba Dalam Masyarakat Islam…

Lantas bagaimana positioning Riba di jaman ini ?;  Meskipun selain di Al-Quran dan Hadits sudah sangat jelas,  dan MUI-pun merasa perlu mengeluarkan fatwa khusus (I/2004) yang menyatakan bunga bank (termasuk bunga asuransi dan sejenisnya) adalah Riba – sampai saat ini tidak ada satu pihak yang berwenang pun di negeri ini yang mencegah kemungkaran yang sangat besar ini.

 

Bahkan timbul kesan riba dan pelakunya di ‘muliakan’. Kita bisa ambil contoh kejadian selama krisis finansial ini misalnya :

 

Saat ini ada beberapa pihak yang ‘sekarat’ di negeri ini; yang pertama adalah jutaan rakyat Indonesia yang ‘sekarat’ karena kebutuhan sehari-hari mereka berupa minyak tanah disuruh ditinggalkannya, tetapi penggantinya berupa gas tidak jelas keberadaannya.

 

Kedua adalah ratusan ribu buruh pabrik yang terancam kehilangan pekerjaan karena pabrik tempat kerjanya terancam bangkrut.

 

Ketiga adalah bank ribawi yang terancam bangkrut bukan karena krisis finasial global saja, tetapi juga karena mis-manajemen.

 

Dari tiga pihak yang sama-sama ‘sekarat’ tersebut, mana yang buru-buru diselamatkan pemerintah ? Ternyata yang ketiga yang mendapatkan perhatian dan upaya penyelamatan paling dahulu.

 

Positioning yang keliru tentang riba inilah yang mendorong perilaku ‘memuliakan’ riba bukan menghinakannya. Dari positioning riba yang keliru ini pula nahi mungkar terhadap kemungkaran yang sangat besar ini (sampai diperangi Allah dan rasulNya) tidak dilakukan.

 

Bagi saudara-saudaraku yang bekerja di bank (juga asuransi konvensional, pasar uang dan pasar modal), ada fatwa yang sangat bagus dari Dr. Yusuf Qaradhawi tentang ini. Intinya riba ini adalah sistemik, mengatasinya tidak harus serta merta Anda langsung keluar dari bank atau asuransi.

 

Namun selama Anda masih berada di dalamnya, Anda harus niatkan dengan sungguh-sungguh bahwa Anda akan gunakan segenap pengalaman , pengetahuan dan pengaruh Anda untuk memberikan alternatif system keuangan yang bebas riba. Untuk menunjukkan keseriusan niat Anda ini, Anda juga harus punya time-frame yang reasonable – jangan karena sudah memang harus pensiun baru meniatkan meninggalkan pekerjaan ribawi.

 

Selain itu banyak produk Anda yang bagus-bagus seperti jasa pembayaran/transfer uang yang sangat mudah dan cepat – asal dihilangkan unsur ribawinya, insyaallah produk bank semacam ini bagus untuk umat dan dapat dilanjutkan bahkan disempurnakan.

 

Semoga pada pergantian tahun Hijriyah  kita tahun ini, kita bisa benar-benar meninggalkan riba. Kalau toh belum, minimal kita harus bisa mem-positioning-kan riba sebagai hal yang terlarang, hina dan diperangi Allah dan RasulNya.

 

Hanya ada dua pihak dalam ‘peperangan’ ini, Hizbullah dan Hisbussyithon . Tentu kita tidak ingin berada di barisan Hizbussyaithon - yang diperangi Allah dan RasulNya. Sebaliknya, kita ingin menjadi Hizbullah yaitu tentara Allah dan RasulNya dalam memerangi kemungkaran riba dan kemungkaran-kemungkaran lainnya.

 

Semoga kita tidak salah memilih…