GeraiDinar.com

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 23 Oktober 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 24 Oct 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,174,183 Beli Rp. 2,087,216

  • Harga Dinar Emas per Tue, 24 Oct 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,169,652 Beli Rp. 2,082,866

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Oct 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,163,080 Beli Rp. 2,076,557

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Oct 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,162,191 Beli Rp. 2,075,703

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Oct 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,162,632 Beli Rp. 2,076,127

Selamat Datang Generasi Petani Tangguh

Sejak tamat kuliah pertanian tahun 1985, saya belum pernah seoptimis sekarang dalam menyikapi dunia pertanian di negeri ini. Pemicunya-nya adalah respond yang luar biasa dari sarjana-sarjana lulusan terbaik negeri ini, yang melamar untuk bergabung dalam program Agripreneur Apprenticeship Program (APP) yang di-launched oleh Indonesia Startup Center dua hari lalu. Respond ini tidak biasanya bila kita mencari tenaga-tenaga pertanian.

 

Seperti yang disindir oleh Presiden RI belum lama ini, bahwa lulusan pertanian-pun tidak pada mau kerja di dunia pertanian. Tetapi respond iklan kami di medsos justru sebaliknya, sarjana-sarjana S1 sampai S3 dari perbagai perguruan tinggi terbaik negeri ini-pun ikut berbondong-bondong mendaftar di program APP tersebut – sampai kami kesulitan untuk memilihnya.

 

Apa yang membuat perubahan yang drastis ini ? Kamipun hanya bisa menduga. Dugaan kami karena kami tidak mencari petani atau tenaga kerja pertanian, tetapi kami mencari calon-calon pengusaha pertanian atau kita sebut dengan istilah agripreneur.

 

Kemungkinan lain adalah akses kapital yang kami tawarkan. Kita tahu selama ini dunia pertanian sulit sekali mencari pembiayaan, kalau toh ada pembiayaan khusus seperti KUR, KUP dlsb, tidak cukup mendorong para sarjana untuk tertarik bertani dengan iming-iming KUR dan KUP.

 

Secara keseluruhan dunia perbankan hanya mengeluarkan +/- 3.5 % (Bank Syariah) s/d +/- 6 % (Bank Konvensional) dari pembiayaannya untuk pertanian. Walhasil ketika kami menawarkan kesempatan untuk pendanaan s/d Rp 2 Milyar bagi yang sukses menempuh program APP tersebut, ini menjadi daya tarik tersendiri.

 

Tapi apa sih program APP itu sendiri ? karena banyaknya pertanyaan masalah ini, maka tulisan ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena masalah pertanian kita ini adalah multi dimensi, maka solusinya juga harus multi dimensi.

 

Ilustrasi dibawah adalah ilustrasi bagaimana kita merancang dan mulai mengeksekusi program ini. Mulainya dari posisi jam 6 – yaitu titik terendah dari putaran jam, dari sanalah peserta yang lulus seleksi akan memulainya – kemudian bergerak berlawanan dengan arah jarum jam.

 

Peserta yang lulus seleksi akan digembleng di kawah condrodimuko pertanian kami yang kami sebut Pesantren Al-Filaha. Nama ini kami ambilkan dari kitab yang men-dokumentasikan revolusi pertanian pertama, di Andalusia – yang membuat negeri kering tersebut berjaya dalam dunia pertanian selama 4 abad dari abad 8 s/d 12 Masehi.

 

Mengapa harus mulai dari sini ? Pertanian kita yang terbawa turun temurun sejak Nusantara didominasi kepercayaan animism dan dinamisme, membuatnya banyak sekali praktek-praktek yang penuh kesyirikan, kurofat dan tahayul. Bagaimana kita akan mendapat pertolonganNya, bila di lapangan kita justru berharap, takut dan memohon kepada yang selain Dia ?

 

Keimanan dan ketakwaan adalah kunci dan pupuk terbaik bagi para petani, karena ini dijanjikan olehNya langsung : “Dan seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi…”. Maka dari petunjukNya inilah kita mulai.

 

Kemudian yang kedua adalah membuka akses pasar, peserta tidak akan kami ijinkan nanam apapun sebelum yakin dengan pasarnya. Karena disinilah problem utama petani kita, menanam apa yang dia bisa – bukan menanam apa yang dibutuhkan pasar.

 

Ketiga akses terhadap sumber daya pertanian yang utama, yaitu lahan. Banyak sekali ahli-ahli pertanian, tetapi ketika mereka tidak memiliki akses lahan – mau menanam dimana ? Lahan juga tidak harus dibeli, karena lahan menganggur sangat banyak. Asal para pemilik lahan tersebut sudah melihat contoh apa yang kita kerjakan, mereka juga akan senang bila lahannya bisa dimakmurkan.

 

Keempat adalah sumberdaya yang selama ini diabaikan, yaitu wakaf. Selain wakaf berupa lahan yang juga sangat banyak lahan wakaf yang terlantarkan, wakaf seperti ilmu, tenaga, dan perbagai sumber daya lain – termasuk program Al-Filaha tersebut di atas – bisa menjadi pemicu lahirnya revolusi pertanian seperti yang terjadi di Andalusia 12 abad silam.

 

Kelima adalah akses pembiayaan komersial, karena petani tangguh tentu tertantang untuk membuktikan bahwa usaha pertaniannya memang layak secara komersial – bukan klangenan atau lifestyle semata. Di sektor pembiayaan pertanian inilah iGrow hadir dengan begitu focus untuk secara khusus meng-ubek-ubek potensi ekonomi pertanian.

 

iGrow lahir di kebun, dari petani untuk petani – bahkan tadinya tidak diarahkan untuk solusi financial semata, namun kemudian karena pembiayaan ini harus mengikuti aturan OJK – maka iGrow bermetamorfosa menjadi Fintech Lending yang resmi terdaftar di OJK. Pekerjaan-pekerjaan teknis lainnya, harus diserahkan pada startup-startup di masing-masing bidang.

 

Keenam adalah penanganan resiko yang dihadapi petani, secanggih apapun Risk Management diterapkan – dia hanya bisa meminimize resiko tetapi tidak menghilangkannya sama sekali. Maka perlu konsep tolong menolong sesama petani atau Ta-awun yang dikelola secara adil dan bebas Magrib (Maisir, gharar dan riba).

 

Pengelolaan secara asuransi konvensional akan bertentangan dengan point yang pertama – yaitu keimanan dan ketakwaan – (lihat Surat 2:275-279), maka sampai resiko-pun harus dikelola mengikuti petunjukNya, yaitu Ta-awun tadi atau bahasa sekarangnya adalah Sharing of Risk.

 

Ketujuh, bertani di era Circular Economy akan menjadi sangat menarik karena tidak harus semua resources kita miliki atau kita beli. Justru bertani dengan Resources Sharing atau berbagi sumber daya inilah yang akan mengangkat ekonomi pertanian kita setara dengan pertanian negara-negara maju.

 

Rata-rata petani kita yang terlalu kecil untuk bisa membeli tractor, planter, harvester dlsb. Namun dengan konsep sharing, petani kecil-pun akan mampu mengakses segala barang modal yang mahal tersebut.

 

Kedelapan adalah di era Circular Economy pula para pengembang teknologi tinggi pertananian seperti IoT, Robotic dan sejenisnya akan memperoleh pasarnya. Anda tidak harus menjual produk Anda karena ini pastinya sulit terbeli oleh petani, tetapi ketika produk Anda menjadi layanan yang dibutuhkan petani – Product as A Services , maka mereka akan rela membayar senilai perceived services yang mereka terima.

 

Maka dengan delapan poin inilah insyaAllah akan terlahir generasi petani tangguh yang akan bisa membangun industri pertanian negeri ini – pada tingkat yang setara atau bahkan lebih baik dari negeri-negeri yang selama ini membanjiri kita dengan produk pertanian mereka.

 

Apakah akan mudah ? tentu tidak. Untuk mendapatkan pendanaan sampai Rp 2 Milyar tersebut di atas misalnya, paling cepat akan bisa Anda raih dalam 15 bulan sejak mengikuti program APP ini. Hitungannya adalah tercepat 3 bulan nyantri di Al-Filaha plus minimal satu tahun magang dan mentoring di bidang specific yang dimininati.

 

Bahkan kebanyakannya akan akan 30 bulan sejak mengikuti program, yaitu nyantri sampai 6 bulan, magang sampai 2 tahun – baru setelah para mentor Anda yakin, Anda dapat menjalankan project agribisnis Anda sendiri yang didanai bertahap sampai maksimal Rp 2 Milyar.

 

Kok lama ya ternyata ? Bisa jadi demikian, tetapi bayangkan dengan rekan-rekan seangkatan Anda yang menempuh karir lainnya. Yang ingin jadi pegawai negeri, 30 bulan mungkin baru dia diangkat jadi pegawai negeri. Yang di swasta, tergantung perusahaannya – 30 bulan umumnya baru sampai asisten manager atau manajer.

 

Jadi waktu 30 bulan untuk menjadi agripreneur yang tangguh adalah worth untuk ditempuh. Dan meskipun pendaftar sudah membludak, kami masih memberi peluang pemuda-pemuda terbaik di negeri ini untuk melamar. Silahkan langsung mengisi form di : bit.ly/agripreneur bagi yang tertarik.