GeraiDinar.com

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 23 Oktober 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 24 Oct 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,174,183 Beli Rp. 2,087,216

  • Harga Dinar Emas per Tue, 24 Oct 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,169,652 Beli Rp. 2,082,866

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Oct 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,163,080 Beli Rp. 2,076,557

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Oct 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,162,191 Beli Rp. 2,075,703

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Oct 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,162,632 Beli Rp. 2,076,127

Jalesveva Jayamahe

Motto yang digunakan oleh TNI Angkatan Laut ini berasal dari bahasa sansekerta yang terjemahan bebasnya adalah di air-air (laut) lah kita berjaya. Ungkapan ini digunakan sejak jaman Majapahit sebagai sarana untuk memotivasi angkatan lautnya, maka kekuatan angkatan laut kita sejak jaman Majapahit memang layak untuk disyukuri. Tetapi kejayaan di laut mestinya tidak terbatas pada kekuatan militer, di bidang ekonomi khususnya masalah transportasi, pangan dan energi – kita juga harus bisa berjaya. Berikut adalah guidance (huda !) agar kita berjaya di laut yang inspirasinya diambilkan dari The Book of Guidance yaitu Al-Qur’an.

 

Di bidang transportasi, kita harus mengubah kalimat melangkolis yang menyebut ‘…dipisahkan dengan lautan…’, menjadi ‘…dihubungkan oleh lautan…’. Mengapa demikian ? Tranportasi laut adalah transportasi yang paling murah, karena kendaraan laut (kapal) tidak perlu menaiki gunung dan turun lembah , semua jalan di laut adalah datar dan dengan gesekan yang minimum, bahan bakar menjadi paling murah. Laut adalah penghubung, bukan pemisah !

 

Bila pemda DKI susah-payah mem-persuade warganya agar mau naik kendaraan umum untuk mengurangi kemacetan, warga di daerah-daerah kepulauan mau-tidak mau memang harus menggunakan kendaraan umum dalam berbagai bentuk penyeberangan. Di hari-hari sibuk padat lalu lintas, yang macet adalah jalan-jalan darat, bukan jalan laut.

 

Tranportasi laut ini di Al-Qur’an paling banyak disebut, ada belasan ayat yang membahasnya. Ayat-ayat tetang kapal yang berlayar di lautan ini sekaligus menambah bukti kebenaran Al-Qur’an bahwa dia bukan karangan Muhammad SAW, karena  sampai Khalifah ke 2 – Umar bin Khattab-pun masih enggan menyeberangi lautan. Mekah dan Madinah adalah jauh dari laut, sedangkan Al-Qur’an sangat banyak membahas laut.

 

Dengan dihubungkannya satu pulau dengan pulau lain melalui lautan, industri kita mestinya justru bisa menyebar ke seluruh pelolok tanah air karena angkutan bahan baku – maupun hasil produknya menjadi murah – karena cost transportasi yang seharusnya murah tersebut di atas. Di laut kita tidak butuh tol karena semuanya sudah tol, tidak butuh bangun jembatan – karena dia memang tidak diperlukan.

 

Bidang kedua adalah makanan  yang merupakan kebutuhan pokok kita, lautan mestinya juga menjadi sumber bahan pangan yang paling murah dan melimpah. Bila petani masih butuh kerja keras dengan modal besar untuk mengolah tanah, menanam dan memelihara tanamannya hingga panen – para pelaut tidak perlu semua ini, mereka tinggal memanen saja setiap saat dia mau.

 

Bila daging dari hewan ternak kita kudu hati-hati dengan kehalalannya, binatang yang halal menjadi haram dagingnya bila tidak disembelih dengan menyebut namaNya, bahkan sudah disembelih dengan menyebut namaNya-pun masih bisa haram dimakan bila ternyata binatang halal tersebut menjadi binatang jalalah (yang diberi makanan najis), ikan dari laut semuanya halal !

 

Bahkan secara spesifik Allah sampai dua kali menyebut daging yang segar atau lahman thoriyyan adalah ikan dari laut (QS 16:14 dan 35:12). Lantas dengan luas lautan kita yang mencapai 3.5 juta km2 atau 65 % dari seluruh wilayah Indonesia dimana daratannya hanya 1.9 juta km2, mestinya kita tidak usah cape-cape impor daging yang selain kehalalannya perlu terus diteliti, juga tidak ada jaminan kesegarannya bukan ?

 

Di bidang energi dan bahan baku industri juga tidak kalah menariknya. Bahwa laut adalah sumber energi, kita sudah di-inspirasi untuk memikirkannya melalui ayat pendek – wal bahril masjuur –dan laut yang mengandung api (QS 52:6). Berangkat dari sini saja kita tidak akan habis-habisnya menemukan sumber api atau energi dari laut.

 

Bisa berupa energi gelombang, angin, minyak, panas bumi dan yang tidak kalah menarik adalah piezoelectricity – yang dapat dihasilkan dari kristal-kristal yang bahan bakunya adalah air laut yang telah menjadi garam. Yang sudah ditemukan sejak dua abad silam adalah piezoelectricity dari garam Rochelle, dan yang kini sedang dalam perburuan teknologi paling efisiennya adalah apa yang disebut Sodium Potassium Niobate (KNN).

 

Sebagaimana namanya, komponen terbesar dari ‘zat ajaib’ yang menghasilkan aliran listrik ketika ditekan atau berubah bentuk ini – bahan bakunya adalah dari air laut, yaitu Sodium (Natrium, Na) yang merupanan komponen terbesar dari air laut selain airnya sendiri (H2O).

 

Bayangkan ketika teknologinya sudah sampai skala ekonomis, air laut yang sudah diproses menjadi KNN menjadi penghasil energi piezo – dia menjadi sumber energi yang tiada habisnya . Berbeda dengan energi fosil – yang prosesnya terjadi jutaan tahun lalu, karena dikonsumsi terus pada waktunya akan habis.

 

Renewable energy lainnya seperti bio fuel dlsb., karena dikonsumsi – dia juga habis, meskipun kemudian bisa diproduksi kembali. Piezo material seperti KNN berbeda, dianya sendiri tidak dikonsumsi – jadi tidak habis. Dia menghasilkan energi ketika mendapat tekanan atau perubahan bentuk, energi kemudian disimpan dan digunakan – kemudian habis, tetapi ketika si Piezo KNN ini ditekan lagi atau berubah bentuk lagi – dia dengan cepat menghasilkan energi baru kembali, begitu seterusnya.

 

Selain untuk energi , air laut yang mengandung sekitar 90-an mineral juga menjadi bahan baku untuk hampir keseluruhan jenis industri. Bahkan pasar garam dunia yang terbesar bukan dimakan manusia, hanya 6 % garam laut yang diproses menjadi garam untuk makanan (food grade), terbesarnya 68 % adalah untuk bahan baku perbagai industri.

 

Ada setidaknya 14,000 jenis pengguaan garam sebagai bahan baku industri, diantaranya adalah untuk industri plastic, kertas, kaca, polyester, karet, pupuk, sabun, detergent, pewarna/cat dlsb. Semua orang di dunia hidup bersama garam baik secara langsung yang dimakan melalui makanannya – tiada makanan yang enak tanpa garam, maupun secara tidak langsung yaitu menggunakan produk-produk industri yang salah satu bahan bakunya adalah garam.

 

Maka hanya ada satu cara kita untuk menjadi bener-bener Jalesveva Jayamahe – Berjaya di lautan, yaitu menysukurinya kita hidup di bumi yang hampir 2/3 wilayahnya lautan ini. Tidak sebatas bersyukur dengan ucapan, tetapi tentu juga dengan perbuatan – mengolah sumber daya yang melimpah ini dengan seadil mungkin. Dengan bersyukur inilah Allah akan menambah nikmatNya kepada kita… (QS 14:7). InsyaAllah.