GeraiDinar.com

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 20 Februari 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Mon, 20 Feb 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,210,986 Beli Rp. 2,122,547

  • Harga Dinar Emas per Mon, 20 Feb 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,213,491 Beli Rp. 2,124,951

  • Harga Dinar Emas per Mon, 20 Feb 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,207,926 Beli Rp. 2,119,609

  • Harga Dinar Emas per Sun, 19 Feb 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,207,926 Beli Rp. 2,119,609

  • Harga Dinar Emas per Sun, 19 Feb 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,208,060 Beli Rp. 2,119,738

Solusi Pak Kyai


Qodarullah setelah tulisan saya dua malam lalu (9/1/17) ‘
Riba Yang Mengambil Makanan Kita’ yang memberi jawaban untuk upaya penurunan harga cabe, daging dan bahan pangan lainnya – esuk paginya (10/1/17) Harian Republika menampilkan head line yang sebaliknya “Kenaikan Harga Cabe Tak Bisa Dihindari”. Karena pendapat saya yang berseberangan dengan pendapat mainstream tersebut, pastinya akan banyak yang mempertanyakan pendapat saya, meragukan realisasinya dlsb. Maka saya ‘bermimpi’ ketemu Kyai yang selalu menginspirasi saya.

 

Janji Al-Qur’an yang akan memberikan jawaban untuk setiap persoalan (16:89), yang kecil seperti bakyak yang hilang sampai yang sangat besar seperti urusan negara – membuat saya sering merindukan pak Kyai untuk terus mengajari saya dalam memahami petunjukNya pada setiap persoalan.

 

Lebih-lebih ketika menghadapi pemikiran yang frontal dengan mainstream seperti tersebut di atas. Bayangkan berita Republika tersebut adalah berdasarkan pernyataan presiden ketika blusukan ke Pasar Induk Kajen – Pekalongan sehari sebelumnya. Karena ini presiden yang menyampaikan, kemungkinan besarnya seluruh menteri dan team ahlinya juga berpendapat demikian.

 

Maka saya perlu penguatan dengan ‘bermimpi’ ketemu Pak Kyai karena besar kemungkinan akan ada yang menggeruduk pendapat saya dari perbagai penjuru – lebih-lebih karena juga tulisan saya tersebut diatas memecahkan rekor saya sendiri dalam jumlah orang yang me-recommend di facebook !

 

Berikut kurang lebih ‘dialog’ antara saya dengan Pak Kyai dalam ‘mimpi’ tersebut.

 

Setelah mencium tangan beliau dan berbasa-basi tentang kabar keluarga, kesehatan dlsb. seperti biasa Pak Kyai yang proaktif membuka pembicaraan – karena itu adab santri – tidak mendahului sang Kyai. “Ono opo le ? – ada apa nak ?” kata beliau membuka. Lalu saya jelaskan panjang lebar permasalahan harga cabe, daging dan bahan pangan lainnya serta solusi yang saya tawarkan seperti dalam tulisan saya tersebut di atas.

 

Lalu Pak Kyai menyampaikan “Yo wis bener, yo pancen ngono – riba kudu ditinggalno, wis jelas banget pawelinge gusti Allah. Lha terus masalahe opo ?, wong aku karo santri-santri ning kene ora mangan riba yo ora patheken !”.

 

Saya mengangguk-angguk sepenuhnya setuju dengan pesan Pak Kyai, dan ingat waktu di tempat ini sekian puluh tahun lalu hidup sebagai santri – jangankan punya account bank atau bahkan pinjaman, lha wong pegang uang saja juga jarang – tetapi saat itupun kami tidak pernah kelaparan tinggal di pesantren ini.

 

Namun saya ingin menjelaskan situasi sekarang ke Kyai – maka saya memberanikan diri untuk bicara banyak “Begini Kyai, orang sekarang kekayaannya berupa uang dan bukan barang. Rata-rata pegawai punya uang banyak berupa jaminan hari tua, tabungan, dana pension, cadangan pesangon dlsb. semua berupa uang di bank, yayasan dana pension, asuransi dlsb yang ujungnya tetap uang kertas yang disimpan di bank atau lembaga keuangan”.

 

Dan cilakanya, masih sekitar 95 % uang-uang tersebut disimpan di bank ribawi dengan tingkat suku bunga di kisaran 6 % , inilah kyai masalahya”. Lantas Pak Kyai menyela “masalahe opo ?”, saya pun berusaha menjelaskan.

 

Begini Kyai, kalau rata-rata pegawai menengah misalnya punya cadangan dana pension , pesangon, tunjangan hari tua dlsb Rp 1 milyar, dan uang tersebut disimpan oleh pengelolanya – bisa dana pension, asuransi dlsb – maka dengan Bunga 6 % yang dijamin pemerintah, duduk ongkang-ongkang tanpa resiko dia akan dapat Rp 60 juta per tahun atau Rp 5 juta per bulan.”

 

Lalu saya melanjutkan : “Bayangkan Kyai, orang tidak usah bekerja menanggung resiko, tidak usah cape-cape bertani menanam cabe memelihara sapi yang penuh resiko – lha wong ongkang-ongkang saja dapat Rp 5 juta sebulan, itu kalau uangnya Rp 1 Milyar, kalau uangnya lebih banyak akan tentu penghasilan bulanan tanpa resiko ini bisa sangat besar !”.

 

Kyai saya menyela lagi : “Aku ora setuju nek kowe ngomong riba kuwi tanpa resiko – justru resikone guide banget, resikone neroko !” Tiba-tiba Kyai saya marah ketika bunga bank saya sebut tanpa resiko – resikonya justru sangat besar – yaitu neraka katanya. Lalu beliau membacakan dan menjelaskan tafsir surat Al-Baqarah 275-279.

 

Saya manggut-manggut penuh persetujuan, setelah beliau selesai – saya berani mejelaskan lagi : “ Saya setuju Kyai , makanya saya datang ke sini. Tetapi di luar sana Riba sudah menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Memang sudah tumbuh sejumlah bank syariah, tetapi pasarnya hanya sekitar 5%, artinya 95% dana masyarakat masih dikelola secara ribawi, dan tingkat suku bunga yang tinggi – membuat orang tidak mau menggunakan uangnya untuk menggerakkan produksi , seperti bertani yang beresiko – lha wong diam saja dia sudah dapat 6% ”.

 

Itulah yang menyebabkan produksi bahan-bahan pangan berupa cabe, daging dlsb tidak cukup kyai, akibatnya harga-harga menjadi mahal, dan pemerintah-pun sudah sepertinya menyerah dengan menyatakan ‘kenaikan harga cabai tak bisa dihindari’” kata saya sambil mengutip pernyataan presiden yang diberitakan oleh Republika tersebut di atas.

 

Ganti Kyai yang manggut-manggut, kemudian beliau punya ide : “Nek ngono, ngopo kok ora pemerintah ngilangke riba sampai 0% , ben duit podo mlayu ning pertanian lan produksi-produksi liane ? opo masalahe ?

 

Saya berusaha menjelaskan : “Secara teori bisa Kyai, namun konon kata orang-orang pinter ekonomi dan birokrat, kalau itu dilakukan secara mendadak maka justru nilai Rupiah yang jatuh – sedangkan kalau Rupiah jatuh barang-barang yang ada dibutuhkan masyarakat akan melonjak harganya – uang yang ada di masyarakat menjadi tidak bernilai”.

 

Saya masih melanjutkan : “Dilakukan mendadak tidak bisa, dilakukan pelan-pelan juga tidak ada yang melakukan. Buktinya sudah 72 tahun Indonesia mereka, 7 presiden telah berganti, suku bunga ribawi kita tetap tinggi !” Kata saya berusaha objektif, tidak menyalahkan pemerintahan yang sekarang saja – karena ini akumulasi masalah yang sudah terjadi selama 72 tahun sejak Indonesia merdeka.

 

Pak Kyai menyela : “Wis, wis, mumet aku – ora nyandak pikiranku, tapi opo ora ono negoro sing iso ngilangke riba iki – supoyo negoro iki bisa nirokke ?

 

Saya menjawab : “Menghilangkan riba mungkin di jaman ini tidak ada negara yang berniat, tetapi banyak negara bisa menekan suku bunga perbankannya sampai mendekati nol – seperti negara-negara Eropa rata-rata suku bunga mereka hanya 0.05%, Amerika hanya 1.35 %, China 2.5 %, Jepang 0.1 % - dan negara-negara tersebutlah yang membanjiri negeri ini dengan produknya, karena uang di negara-negara tersebut tidak menarik bila hanya disimpan di bank, diputarlah uang untuk menggerakkan sektor produksi”.

 

Saya menambahkan : “Sedangkan di kita orang enggan memutar uang untuk menggerakkan produksi karena nongkrong di bank saja yang dijamin pemerintah dan rakyatnya – sudah menghasilkan 6% tersebut di atas !

 

Kyai-pun punya ide lagi : “Wis nek podo ora gelem produksi, nandur lombok, angon sapi – nek aku karo santri-santri wae sing nggerakno produksi – piye carane ?

 

Saya senang dengan ide ini : “Betul Kyai, justru saya kesini selain minta wejangan panjenengan – juga ingin ngajak nggerakkan santri untuk produksi ini”. Lantas saya jelaskan beberapa project pertanian yang sudah kami mulai rintis, temasuk yang terbaru adalah project Agropolis – Kota Pertanian yang kami bangun bersama para Kyai di Banten dan teman-teman di Telkom.

 

Setelah membolak-balik contoh project pertanian dalam bentuk brosur yang saya berikan, kyai semakin antusias, dengan bersemangat beliau sampaikan : “Wis, nek saiki tak gerakke santriku nggawe sing koyo iki, kowe iso golekke duite ?

 

Setelah berfikir sejenak saya berani menjawab : “Memang mungkin tidak mudah Kyai, karena saya butuh meyakainkan orang-orang yang punya duit untuk menggerakkan sektor riil – lha wong diamnya uang mereka saja dapat 6 % - tetapi kalau Kyai perintahkan mencarikan uang untuk ini, insyaAllah sebagai santri saya akan laksanakan sekuat tenaga saya”.

 

Dengan sedikit optimis saya lanjutkan : “Saya yakin di luar sana masih banyak saudara kita yang tidak tergiur dengan berarapun bunga bank yang ditawarkan, merekalah yang rela mencairkan depositonya, dana pensiunnya, tunjangan hari tuanya dlsb – untuk mengambil resiko dan mau berproduksi dan bertani bersama Kyai”.

 

Melihat Sang Kyai berbinar-binar, saya tambah semangat : “Apalagi kalau kita bisa menjangkau sudara-saudara kita di Eropa, Amerika, Jepang, New Zealand, Australia dlsb. mereka akan sangat antusias berinvestasi bersama kita untuk dua alasan. Alasan pertama ini adalah sedikit dari jenis investasi yang bebas riba yang ada di dunia modern ini, dan yang kedua – di negara mereka tinggal – menaruh uang di bank sama sekali tidak menarik – karena uang di bank mereka nyaris tidak memberikan hasil apa-apa”.

 

Kyai tiba-tiba ragu sejenak : “ Sik, sik, nek wis aku panen cabe, sapi lan hasil pertanian liane – sopo sing arep tuku ? opo kowe iso ugo golekke pasar ?”.

 

Saya Alhamdulillah siap menjawab pertanyaan yang ini, karena ini yang selalu ditanyakan orang ketika saya ajak bertani : “InsyaAllah Kyai, Justru dalam bertani ini kita harus berpikir terbalik dengan petani pada umumnya, kita tidak menanam begitu saja apa yang kita bisa tanam kemudian setelah panen bingung cari pasar. Kita bekerja mulai dari akhir, mencari pasarnya dahulu dan setelah ketemu pasar baru menanam atau memelihara apa yang dibutuhkan pasar”.

 

Saya melanjutkan : “Bahkan para pembeli tersebut ada yang berani membayar di muka untuk produk-produk pertanian yang kita tanam”. Kyai langsung kaget dengan muka marah : “Lho kuwi lak ijon, sing dilarang banget karo Islam ?”.

 

Saya paham atas concern Pak Kyai, saya menjelaskan : “ Tidak Pak Kyai, ini menggunakan akad salam – yang sudah difatwakan juga oleh Dewan Syariah Nasional – MUI”. Saya kemudian agak menggurui ‘bebek untuk berenang’ untuk menjalaskan bedanya ijon dengan salam, kalau ijon membeli dengan harga tertentu untuk hasil yang belum jelas – misalnya membeli hasil panen satu hektar sawah dengan harga Rp 15 juta – berapun hasil panenannya nanti.

 

Sedangkan salam adalah membeli produk pertanian yang specific yang akan diserahkan pada waktu yang disepakati dengan pembayaran di depan – pembelian secara pesanan, misalnya saya membeli 5 ton cabe merah keriting untuk diserahkan empat bulan yang akan datang dan diserahkan di Pasar Induk Kramat Jati misalnya.

 

Kyi langsung ingat dan manggut-manggut : “Bener-bener, mbiyen Kanjeng Nabi pancen ngolehke tuku-tinuku nggaggo salam utowo salaf iki , kanggo produk-produk pertanian koyo kurmo, anggur, gandum lan sak liane”.

 

Saya malah dapat ilmu baru dari Kyai yang kemudian antusias membahas akad salam untuk produk-produk pertanian ini, kemudian saya mendapatkan ide baru : “Kalau begitu Kyai, tambah lagi sumber Dana yang bisa kita gerakkan untuk mendanai project-project pertanian ini – yaitu akad salam dari para calon pembeli. Dana diterima di depan untuk menanam cabe, memelihara sapi dlsb, untuk diserahkan berupa hasil pertanian yang specific pada waktu dan tempat yang disepakati”. Kyai manggut-manggut sambal menerawang jauh dan tersenyum bahagia, mungkin membayangkan peluang bagi masa depan para santrinya yang kini terbuka lebar.

 

Saya-pun terbangun dari ‘mimpi’ saya, dan kini insyaAlah siap melawan arus mainstream dalam pemikiran solusi ekonomi. Ketika pemerintah sudah menyatakan “Kenaikan Harga Cabai Tidak Bisa Dihindari”, saya malah berpikir sebaliknya – kenaikan harga cabe bisa dan harus dihindari !. Rakyat kecil yang tidak mampu membeli daging, tahu tempe mungkin juga bisa menghilang karena kedelainya disedot oleh kebutuhan pasar China, hiburan lauk-pauk bagi rakyat tinggal cabe.

 

Ingat waktu di pesantren dahulu, makan apapun – tanpa lauk sekalipun – selagi masih ada cabe yang pedas, maka makanan itu masih terasa enaknya. Lha kalau cabe-pun tidak terjangkau lagi, rakyat suruh makan apa ? Wa Allahu A’lam.