Kembang Gula IMF, Jangan Lagi…
Ayah kami yang juga kyai di pesantren kecil tersebut bersama para muridnya, setiap saat harus siap berperang – dalam arti harfiah /dengan pedang - untuk bisa mempertahankan eksitensi pesantren dan lingkungannya.
Perang dibidang lain juga terjadi sampai bertahun-tahun kemudian yaitu perang pemikiran di sekolah-sekolah. Ketika saya mulai sekolah-pun ayah kami membekali kami dengan benteng aqidah, untuk bisa melawan pemikiran para atheis kambuhan – yang kemudian disebut bahaya laten PKI.
Salah satu yang masih saya ingat adalah bekal untuk berjaga-jaga kalau ada guru tk/sd yang punya ajaran nyleneh. Misalnya untuk merusak aqidah anak-anak dari kecil, anak-anak tersebut diminta berdoa’a kepada tuhannya untuk meminta kembang gula. Kemudia si guru akan membuktikan bahwa dengan meminta kepada tuhannya – anak –anak tersebut ternyata tidak mendapatkan kembang gula.
Kemudian si guru akan meminta anak-anak berdoa minta tolong kepada Bapak/ibu guru untuk meminta kembang gula; maka saat itu pula kembang gula diberikan.
Lantas bapak/ibu guru akan mengarahkan bahwa ternyata Tuhan itu tidak ada karena terbukti tidak dapat memberi kembang gula. Sebaliknya bapak ibu guru-lah yang ada – yang bisa memberi kembang gula.
Lantas apa bekal yang diberikan bapak kami ?, sederhana sekali tetapi sangat relevan sampai sekarang sekalipun; yaitu pemahaman bahwa bapak/ibu guru tersebut hanya bisa memberi kita kembang gula – tidak lebih dari itu.
Kalau kita minta yang lain misalnya, baju , apalagi minta sepeda (yang saat itu masih barang mewah), minta hujan (karena kampung kami panas) dan minta apa saja kebutuhan kita – tidak ada yang bisa diberikan oleh bapak /ibu guru yang nyleneh tersebut.
Hanya Allah-lah sebaik-baik penolong; hanya Dia-lah yang melapangkan rizki dan menyempitkannya. Allah pula-lah yang maha tahu apa yang baik diberikan kepada kita pada waktu terbaiknya.
Begitu indahnya ajaran mempertahankan aqidah tersebut, sehingga sampai sekarang-pun tetap relevan untuk menyikapi krisis yang sedang terjadi secara global ini.
Kita tahu bahwa sejak krisis finansial global mewabah 7 minggu belakangan ini, sudah enam negara di Eropa Timur yang meminta uluran tangan Dana Moneter Internasional (IMF), yaitu Hongaria, Eslandia, Rusia, Ukraina, Turki, dan Belarus.
Nasib sama dialami emerging market di Amerika Latin, dengan Argentina berpotensi terpuruk dalam krisis utang lagi. Di Asia, Pakistan-lah yang mengawali permintaan dana darurat dari IMF.
Hampir seluruh Negara yang masuk kategori emerging market tersebut, nilai mata uangnya terpangkas sangat significant – beberapa bahkan mengalami penurunan sampai 80% - mirip yang dialami oleh Indonesia tahun 1997/1998.
Bagaimana dengan Indonesia kini ?. Menurut Kompas (31/10) dalam empat minggu terakhir cadangan devisa RI sudah tergerus US$ 4.1 Milyar. Bahkan masih menurut harian yang sama yang mengutip perkiraan salah satu pengamat ekonomi, bahwa BI telah mengeluarkan sekitar US$ 15 Milyar – US$ 20 Milyar untuk menyelamatkan Rupiah !.
Kalau krisis financial global ini berlanjut – mudah-mudahan tidak – akankah Indonesia ikut ngantri minta tolong lagi ke IMF seperti cerita 10 tahun lalu ?. Ini yang harus di waspadai bangsa ini, jangan sampai pengalaman pahit tersebut terulang.
Masalah kepada siapa kita minta tolong ini yang ingin saya fokuskan pada tulisan ini. Jangan sampai kita minta tolong kepada pihak yang bahkan tidak bisa menolong dirinya sendiri….bisa syirik jatuhnya !.
Bukankan sama apa yang dilakukan oleh guru-guru nyleneh tahun 60-an yang saya contohkan tersebut diatas, dengan para ekonom barat atau didikan barat yang mencuci otak kita kita bahwa IMF-lah penolong krisis tersebut ? kepada IMF-lah kita minta tolong saat menghadapi krisis ?.
Kita juga sudah mengalami 10 tahun lalu, bahwa betul IMF dapat memberi negeri ini pinjaman sekian milyar dollar ke kita waktu itu – tetapi ini tidak lebih dari ‘kembang gula’ yang sama dengan yang diberikan oleh ajaran guru nyleneh tahun 60-an tersebut diatas.
Bukan hanya pinjamannya yang tidak jelas manfaatnya untuk kita; yang mereka ambil dari kita ternyata jauh lebih banyak. Kawan-kawan yang bekerja di industri telekomunikasi. perbank-an dlsb. tahu betul rasanya bagaimana rasanya perusahaan tempat mereka bekerja lepas ke tangan asing buah dari ‘kembang gula’ IMF tahun 1998.
Krisis masih mungkin menghinggapi negeri ini dalam hari-hari kedepan; tetapi kalau toh ini terjadi jangan sampai kita rugi dua kali – hilangnya kekayaan negeri ini bersama dengan hilangnya aqidah penduduknya.
Hanya kepada Allah-lah kita minta pertolongan; Dan Dia-lah sebaik-baik penolong. Yang dapat diberikan olehNya jauh lebih banyak dan lebih luas dari ‘kembang gula’ bantuan IMF. Tinggal kita meyakiniNya, kemudian menggali segala rahmatNya yang dilimpahkan disekitar kita.



















