Simple Life....
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS 51: 56)
Alhamdulillah dengan penuh syukur kehadiratNya perjalanan panjang melelahkan dua minggu telah saya selesaikan, insyaallah mulai hari ini saya bisa hadir lagi mengisi blog ini.
Memang sayang saya tidak bisa menemani pembaca disaat pasar dunia bergejolak hebat selama dua minggu terakhir yang dipicu oleh krisis di Amerika, namun insyaallah banyak hal berharga lain yang bisa kita share bersama pada hari-hari mendatang.
Pada kesempatan pertama mengisi blog ini kembali-pun saya tidak tergesa-gesa memberi komentar pada apa yang sedang terjadi di pasar, tetapi ingin lebih dahulu share pelajaran dari perjalanan ber i’tikaf di Baitullah.
Pelajaran sederhana ini adalah tentang bagaimana memberi makna hidup kita ini. Begitu sederhananya pelajaran ini sehingga hanya dibutuhklan satu ayat pendek untuk menjelaskannya...yaitu ayat yang saya kutip tersebut diatas.
Hidup ini hanya akan bermakna dan kemenangan besar hanya akan kita peroleh bila kita hidup sesuai dengan tujuan penciptaan kita yaitu untuk beribadah kepadaNya titik.
Tidak mudah memang menghayati tujuan penciptaan kita tersebut dikala kita terjebak dalam hiruk pikuknya dunia yang melalaikan ini. Dunia yang seharusnya hanya menjadi sarana kita untuk beribadah kepadaNya, sering berubah menjadi tujuan hidup itu sendiri.
Itulah sebabnya dari waktu ke waktu kita perlu keluar dari kehidupan rutin kita untuk bisa secara khusuk berintrospeksi diri – sejauh mana kita telah berada pada garis yang sejalan dengan tujuan penciptaan kita tersebut.
Kesempatan terbaik tahunan untuk ini adalah 10 hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu mengikuti sunnah Rasulullah SAW beri’tikaf di Masjid. Tidak harus di Masjidil Haram memang, namun apabila bisa melakukannya disana akan sangat baik karena sekali sholat di Masjidil Haram nilainya 100,000 kali sholat di Masjid lain (selain Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsa).
Selain masalah pahala yang bukan urusan kita (urusan Allah semata) tersebut, memaknai tujuan hidup menjadi lebih mudah kita hayati pada saat kita ber i’tikaf di Masjidil Haram.
Betapa tidak, jutaan orang (Ramadhan kemarin diperkirakan diatas 2 juta) rela untuk meninggalkan segala kenikmatan duniawi hanya agar bisa beribadah kepadaNya.
Selama 10 hari (kemarin hnya 9 karena puasa hanya 29 hari) kita tidak mementingkan apa yang kita makan, dimana kita tidur, yang paling penting hanya agar kita bisa Sholat wajib, sholat taraweh dan shalat malam tanpa ketinggalan.
Untuk urusan duniawi kita misalnya, kita sudah bahagia bila menjelang berbuka mendapatkan beberapa butir korma dan air putih yang dibagikan oleh para dermawan dari kalangan penduduk Mekkah dan sekitarnya.
Untuk tidur (selama 9 hari !) kita sudah cukup bahagia bila kavling yang luasnya hanya sebatas sajadah – tidak digeser oleh orang lain, mulai malam 25 sampai malam 29 bahkan kita harus mengorbankan kavling tersebut menjadi ½ sajadah saja karena semakin banyaknnya jemaah yang ingin beritikaf di Masjid.
Mengapa ini semua dengan suka rela kita lakukan ? karena kita disana menyadari bahwa yang paling penting adalah agar kita dapat beribadah kepadaNya !.
Alangkah indahnya bila kesadaran demikian dapat kita bawa dalam kehidupan kita sehari-hari; semua ini hanya sarana agar kita dapat beribadah kepadaNya.
Karena sifatnya hanya sarana, maka tidaklah menjadi terlalu penting bagi kita untuk bisa makan apa hari ini, seperti apa dan dimana rumah tempat tinggal kita, setinggi apa karir kita, semaju apa usaha kita dst.dst. Semua ini hanya akan bernilai positif apabila dapat menunjang tujuan utama penciptaan kita – yaitu untuk beribadah kepadaNya.
Kalau kesadaran ini bisa kita bangkitkan, maka insyaallah kita akan dapat melihat hidup ini secara sederhana yaitu fokus pada tujuannya ber-ibadah untuk memeperoleh RidloNya, Apapun diluar itu hanyalah sarana, Sarana tidak boleh melalaikan kita dari tujun apalagi berubah menjadi tujuan itu sendiri. Wallahu a’lam.
Alhamdulillah dengan penuh syukur kehadiratNya perjalanan panjang melelahkan dua minggu telah saya selesaikan, insyaallah mulai hari ini saya bisa hadir lagi mengisi blog ini.
Memang sayang saya tidak bisa menemani pembaca disaat pasar dunia bergejolak hebat selama dua minggu terakhir yang dipicu oleh krisis di Amerika, namun insyaallah banyak hal berharga lain yang bisa kita share bersama pada hari-hari mendatang.
Pada kesempatan pertama mengisi blog ini kembali-pun saya tidak tergesa-gesa memberi komentar pada apa yang sedang terjadi di pasar, tetapi ingin lebih dahulu share pelajaran dari perjalanan ber i’tikaf di Baitullah.
Pelajaran sederhana ini adalah tentang bagaimana memberi makna hidup kita ini. Begitu sederhananya pelajaran ini sehingga hanya dibutuhklan satu ayat pendek untuk menjelaskannya...yaitu ayat yang saya kutip tersebut diatas.
Hidup ini hanya akan bermakna dan kemenangan besar hanya akan kita peroleh bila kita hidup sesuai dengan tujuan penciptaan kita yaitu untuk beribadah kepadaNya titik.
Tidak mudah memang menghayati tujuan penciptaan kita tersebut dikala kita terjebak dalam hiruk pikuknya dunia yang melalaikan ini. Dunia yang seharusnya hanya menjadi sarana kita untuk beribadah kepadaNya, sering berubah menjadi tujuan hidup itu sendiri.
Itulah sebabnya dari waktu ke waktu kita perlu keluar dari kehidupan rutin kita untuk bisa secara khusuk berintrospeksi diri – sejauh mana kita telah berada pada garis yang sejalan dengan tujuan penciptaan kita tersebut.
Kesempatan terbaik tahunan untuk ini adalah 10 hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu mengikuti sunnah Rasulullah SAW beri’tikaf di Masjid. Tidak harus di Masjidil Haram memang, namun apabila bisa melakukannya disana akan sangat baik karena sekali sholat di Masjidil Haram nilainya 100,000 kali sholat di Masjid lain (selain Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsa).
Selain masalah pahala yang bukan urusan kita (urusan Allah semata) tersebut, memaknai tujuan hidup menjadi lebih mudah kita hayati pada saat kita ber i’tikaf di Masjidil Haram.
Betapa tidak, jutaan orang (Ramadhan kemarin diperkirakan diatas 2 juta) rela untuk meninggalkan segala kenikmatan duniawi hanya agar bisa beribadah kepadaNya.
Selama 10 hari (kemarin hnya 9 karena puasa hanya 29 hari) kita tidak mementingkan apa yang kita makan, dimana kita tidur, yang paling penting hanya agar kita bisa Sholat wajib, sholat taraweh dan shalat malam tanpa ketinggalan.
Untuk urusan duniawi kita misalnya, kita sudah bahagia bila menjelang berbuka mendapatkan beberapa butir korma dan air putih yang dibagikan oleh para dermawan dari kalangan penduduk Mekkah dan sekitarnya.
Untuk tidur (selama 9 hari !) kita sudah cukup bahagia bila kavling yang luasnya hanya sebatas sajadah – tidak digeser oleh orang lain, mulai malam 25 sampai malam 29 bahkan kita harus mengorbankan kavling tersebut menjadi ½ sajadah saja karena semakin banyaknnya jemaah yang ingin beritikaf di Masjid.
Mengapa ini semua dengan suka rela kita lakukan ? karena kita disana menyadari bahwa yang paling penting adalah agar kita dapat beribadah kepadaNya !.
Alangkah indahnya bila kesadaran demikian dapat kita bawa dalam kehidupan kita sehari-hari; semua ini hanya sarana agar kita dapat beribadah kepadaNya.
Karena sifatnya hanya sarana, maka tidaklah menjadi terlalu penting bagi kita untuk bisa makan apa hari ini, seperti apa dan dimana rumah tempat tinggal kita, setinggi apa karir kita, semaju apa usaha kita dst.dst. Semua ini hanya akan bernilai positif apabila dapat menunjang tujuan utama penciptaan kita – yaitu untuk beribadah kepadaNya.
Kalau kesadaran ini bisa kita bangkitkan, maka insyaallah kita akan dapat melihat hidup ini secara sederhana yaitu fokus pada tujuannya ber-ibadah untuk memeperoleh RidloNya, Apapun diluar itu hanyalah sarana, Sarana tidak boleh melalaikan kita dari tujun apalagi berubah menjadi tujuan itu sendiri. Wallahu a’lam.











1 Comments:
IYa Pak, betul sekali.. Hidup memang untuk beribadah. Oleh karena itu kita ber dakwah dan berjihad...
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home