Krisis Finansial di Amerika, Mengapa Kita Ikut jadi Korban…?
Waktu krismon melanda Indonesia tahun 1997/1998; saya masih punya ibu di Kampung untuk dikunjungi setiap saat. Kunjungan-kunjungan tersebut selalu menyenangkan karena seperti mengulang masa kecil yang indah-indah.
Waktu saya kecil orang-orang di kampung saya bisa hidup nyaris tanpa uang, karena hampir semua yang kita butuhkan ada di situ. Padi dari sawah kita, sayur tinggal memetik, minyak goreng buat sendiri, memasak dengan kayu bakar dlsb.dlsb.
Namun ketika krisis 1997/1998 melanda orang kampung saya sudah mulai kena dampaknya karena mereka makan mie dari terigu yang bahannya diimpor, mereka membeli minyak goreng yang bersaing dengan pasar ekspor, mereka harus memasak dengan minyak tanah (saat itu) yang harganya terus naik, dst.
Sampai-sampai ketika pulang kampung semasa krismon tersebut saya sering mendapat pertanyaan dari orang kampung : “….krismon ki opo to le ? kok urip dadi angel tenan…?.”.
Pertanyaan yang mirip berulang di sekitar kita sekarang; bukan lagi hanya dari orang kampung nun jauh disana tetapi juga dari orang-orang yang hidup di kota besar seperti Jakarta ini.
Para karyawan yang terancam tidak mendapatkan bonus tahun ini; para buruh pabrik yang pabriknya terancam berhenti, para pedagang yang mulai kesulitan memasarkan barang tertentu….mereka semua punya pertanyaan yang mirip…Mengapa Kita Ikut Jadi Korban ?.
Penjelasan detail ekonomi makronya biarlah dijelaskan oleh para pakarnya. Saya hanya berusaha menjelaskannya dengan apa yang saya tahu.
Di tulisan saya tangggal 7 Oktober 2008 lalu saya menjelaskan bagaimana likuiditas semu yang tadinya memang nggak ada, kemudian kembali menjadi nggak ada.
Nah penciptaan likuiditas semu tersebut dilakukan bersama-sama antara bank satu dengan bank yang lain. Tentu dalam skala masyarakat global di jaman modern ini, penciptaan likuiditas semu juga terjadi antara bank-bank besar dunia.
Ketika Lehman Brothers gagal dan harus di likuidasi 15 september 2008; maka dampak menghilangnya likuiditas global tidak bisa dihindari.
Kalau uang semu (uang bank) yang di pasar menghilang; apa yang dilakukan pemerintah ?; Agar tidak menyinggung siapa-siapa, saya kasih contoh yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika – tetapi ingat pepatah waktu kita SD…Guru…Berdiri…Murid ….Berlari..
Pemerintah AS berusaha menyediakan likuiditas di pasaran dengan menurunkan suku bunga supaya kredit berjalan…dan juga mencetak uang; namun karena likuiditas yang menghilang besarnya rata-rata 10-12 kali dari supply uang (M1); maka likuiditas tetep seret – tidak terkejar oleh bertambahnya uang yang dicetak pemerintah.
Maka seluruh dunia sekarang masuk dalam jebakan likuiditas atau liquidity trap- nya Amerika. Meskipun mereka mencetak uang US$ banyak-banyak saat ini, untuk sementara tidak menimbulkan inflasi bahkan cenderung deflasi karena bank-bank mereka mengerem pinjaman. Inilah sebabnya mengapa US$ saat ini nilainya tinggi.
Mahalnya US$ kemudian berdampak pada turunnya nilai tukar berbagai mata uang lain di dunia, termasuk Indonesia tentu saja.
Kalau mata uang kita nilainya turun, otomatis berbagai kebutuhan kita yang sekian banyak tergantung barang ekspor menjadi lebih mahal.
Lantas bagaimana kita bisa terlepas pusaran krisis ini ?; maksimalkan kembali penggunaan sumber daya yang ada di sekitar kita, kurangi impor, kurangi hutang. Kalau anda berniat hutang ke bank saat ini saran saya batalkan niat tersebut, bahkan kalau bisa hutang yang ada di lunasi. Wallahu A'lam.
Waktu saya kecil orang-orang di kampung saya bisa hidup nyaris tanpa uang, karena hampir semua yang kita butuhkan ada di situ. Padi dari sawah kita, sayur tinggal memetik, minyak goreng buat sendiri, memasak dengan kayu bakar dlsb.dlsb.
Namun ketika krisis 1997/1998 melanda orang kampung saya sudah mulai kena dampaknya karena mereka makan mie dari terigu yang bahannya diimpor, mereka membeli minyak goreng yang bersaing dengan pasar ekspor, mereka harus memasak dengan minyak tanah (saat itu) yang harganya terus naik, dst.
Sampai-sampai ketika pulang kampung semasa krismon tersebut saya sering mendapat pertanyaan dari orang kampung : “….krismon ki opo to le ? kok urip dadi angel tenan…?.”.
Pertanyaan yang mirip berulang di sekitar kita sekarang; bukan lagi hanya dari orang kampung nun jauh disana tetapi juga dari orang-orang yang hidup di kota besar seperti Jakarta ini.
Para karyawan yang terancam tidak mendapatkan bonus tahun ini; para buruh pabrik yang pabriknya terancam berhenti, para pedagang yang mulai kesulitan memasarkan barang tertentu….mereka semua punya pertanyaan yang mirip…Mengapa Kita Ikut Jadi Korban ?.
Penjelasan detail ekonomi makronya biarlah dijelaskan oleh para pakarnya. Saya hanya berusaha menjelaskannya dengan apa yang saya tahu.
Di tulisan saya tangggal 7 Oktober 2008 lalu saya menjelaskan bagaimana likuiditas semu yang tadinya memang nggak ada, kemudian kembali menjadi nggak ada.
Nah penciptaan likuiditas semu tersebut dilakukan bersama-sama antara bank satu dengan bank yang lain. Tentu dalam skala masyarakat global di jaman modern ini, penciptaan likuiditas semu juga terjadi antara bank-bank besar dunia.
Ketika Lehman Brothers gagal dan harus di likuidasi 15 september 2008; maka dampak menghilangnya likuiditas global tidak bisa dihindari.
Kalau uang semu (uang bank) yang di pasar menghilang; apa yang dilakukan pemerintah ?; Agar tidak menyinggung siapa-siapa, saya kasih contoh yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika – tetapi ingat pepatah waktu kita SD…Guru…Berdiri…Murid ….Berlari..
Pemerintah AS berusaha menyediakan likuiditas di pasaran dengan menurunkan suku bunga supaya kredit berjalan…dan juga mencetak uang; namun karena likuiditas yang menghilang besarnya rata-rata 10-12 kali dari supply uang (M1); maka likuiditas tetep seret – tidak terkejar oleh bertambahnya uang yang dicetak pemerintah.
Maka seluruh dunia sekarang masuk dalam jebakan likuiditas atau liquidity trap- nya Amerika. Meskipun mereka mencetak uang US$ banyak-banyak saat ini, untuk sementara tidak menimbulkan inflasi bahkan cenderung deflasi karena bank-bank mereka mengerem pinjaman. Inilah sebabnya mengapa US$ saat ini nilainya tinggi.
Mahalnya US$ kemudian berdampak pada turunnya nilai tukar berbagai mata uang lain di dunia, termasuk Indonesia tentu saja.
Kalau mata uang kita nilainya turun, otomatis berbagai kebutuhan kita yang sekian banyak tergantung barang ekspor menjadi lebih mahal.
Lantas bagaimana kita bisa terlepas pusaran krisis ini ?; maksimalkan kembali penggunaan sumber daya yang ada di sekitar kita, kurangi impor, kurangi hutang. Kalau anda berniat hutang ke bank saat ini saran saya batalkan niat tersebut, bahkan kalau bisa hutang yang ada di lunasi. Wallahu A'lam.











1 Comments:
Pak Iqbal,
Assalammu'alaikum,
Terkait dengan krisis yg insyaallah akan kita hadapi, bagaimana dengan tingkat likuiditas Dinar Emas dan Dirham Perak? Sepengetahuan saya disaat krisis ekonomi, semua orang menginginkan likuiditas, semua ingin pengan uang cash, semua ingin jual apa yang dimiliki untuk mendapatkan cash. Bagaimana dengan Dinar/Dirham kita, apakah nantinya disaat membutuhkan uang cash, penukaran Dinar/Dirham menjadi uang cash tetap dapat mudah dilakukan? Tentunya penukaran dari Dinar/Dirham ini bukan karena tergiur uang cashnya tapi semata karena kebutuhan yang sangat mendesak.
Wassalam,
arynur
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home