Korelasi Antara Harga Minyak Dengan Harga Emas…
Dalam tulisan saya tentang Dunia Tanpa Inflasi/ Deflasi saya memberi bukti perhitungan bahwa hanya dengan inflasi rat-rata 0% -lah yang memungkinkan harga kambing sekarang dalam Dinar sama dengan harga kambing di jaman Rasulullah SAW.
Apa berarti kalau uang kita Dinar harga-harga tidak pernah naik ?; pernah juga cuma penyebabnya bukan karena menurunnya nilai uang yang dicetak terus – melainkan karena effect supply & demand saja. Penjelasan masalah ini ada di tulisan saya tentangPerbedaan Antara Inflasi yang Dhalim dengan naik-Turunnya Harga yang Fitrah .
Kalau saya membuktikan nilai inflasi Dinar rata-rata selama 1400 tahun adalah nol dengan perhitungan harga kambing; argumen ini seting tidak acceptable bagi kawan-kawan saya yang ekonom. Banyak alasannya, tetapi yang paling sering diajukan adalah kambing tidak merepresentasikan harga barang-barang dan jasa – apalagi di jaman modern ini.
Oleh karenanya dalam beberapa tulisan, saya ambil juga komoditi yang sifatnya universal – yang naik turunnya menyebabkan naik turunnya komoditi lainnya – yaitu minyak. Data harga minyak dan harga emas real time bahkan selalu dapat diikuti pembaca di salah satu gauge yang ada di blog ini.
Kalau data harga minyak rata-rata tahunan (US$/barrel) dan harga Emas rata-rata tahunan (US$/Oz) sejak selesainya Perang Dunia II kita sandingkan, maka kita akan dapat melihat hasilnya seperti grafik disamping. (Grafik ini merupakan update dari grafik sebelumnya dengan data 2008 per 24/10/08)
Banyak hal yang bisa diceritakan tentang grafik tersebut; antara lain :
1. Harga Emas terbukti berkorelasi positif dengan harga minyak selama lebih dari 60 tahun terakhir; kalau dihitung secara statistic Coeffcient of Correlation -nya bahkan lebih dari 90 %.
2. Karena minyak merepresentasikan harga-harga dari barang dan jasa lainnya, maka grafik tersebut juga membuktikan emas tidak pernah kehilangan daya belinya.
3. Selama lebih dari 25 tahun (1945-1971) ketika emas dijadikan standar bagi mata uang melalui Bretton Woods Agreement; ternyata harga minyak relatif stabil karena hanya naik dari US$ 1.6/barrel(1945) menjadi US$ 3.6/barrel (1971) saja. Seandainya Amerika Serikat tidak mengingkari Bretton Woods Agreement maka harga minyak mentah dunia saat ini hanya sekitar US$ 7/barrel.
4. Ketika gold standard ditinggalkan, berupa pengingkaran Bretton Woods Agreement oleh pemrakarsanya sendiri – Amerika Serikat; maka mulai saat itulah harga minyak dan harga emas bergejolak tidak terkendali sampai sekarang.
5. Ternyata uang kertas hanya memiliki daya beli yang relatif stabil apabila dikaitkan dengan emas. Lantas mengapa bersusah payah membuat uang kertas kalau reliability -nya harus dikaitkan dengan emas ?.
Kalau toh data yang 60 tahun lebih ini yang kita pakai (saya sendiri sebenarnya prefer yang 1400 tahun harga kambing sebagai bukti ! ), maka terbukti bahwa emas-lah uang yang sesungguhnya itu; bukan US$ , Rupiah atau mata uang kertas lainnya.
Hari-hari ini harga emas lagi rendah, namun harga minyak juga rendah, harga saham juga sangat rendah, yang tinggi hanya harga US$...jadi Anda bisa simpulkan sendiri mana yang sebenarnya lagi tidak bener. Ingat timbangan badan di kamar hotel yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Wallahu A’lam.
Apa berarti kalau uang kita Dinar harga-harga tidak pernah naik ?; pernah juga cuma penyebabnya bukan karena menurunnya nilai uang yang dicetak terus – melainkan karena effect supply & demand saja. Penjelasan masalah ini ada di tulisan saya tentangPerbedaan Antara Inflasi yang Dhalim dengan naik-Turunnya Harga yang Fitrah .
Kalau saya membuktikan nilai inflasi Dinar rata-rata selama 1400 tahun adalah nol dengan perhitungan harga kambing; argumen ini seting tidak acceptable bagi kawan-kawan saya yang ekonom. Banyak alasannya, tetapi yang paling sering diajukan adalah kambing tidak merepresentasikan harga barang-barang dan jasa – apalagi di jaman modern ini.
Oleh karenanya dalam beberapa tulisan, saya ambil juga komoditi yang sifatnya universal – yang naik turunnya menyebabkan naik turunnya komoditi lainnya – yaitu minyak. Data harga minyak dan harga emas real time bahkan selalu dapat diikuti pembaca di salah satu gauge yang ada di blog ini.
Kalau data harga minyak rata-rata tahunan (US$/barrel) dan harga Emas rata-rata tahunan (US$/Oz) sejak selesainya Perang Dunia II kita sandingkan, maka kita akan dapat melihat hasilnya seperti grafik disamping. (Grafik ini merupakan update dari grafik sebelumnya dengan data 2008 per 24/10/08)Banyak hal yang bisa diceritakan tentang grafik tersebut; antara lain :
1. Harga Emas terbukti berkorelasi positif dengan harga minyak selama lebih dari 60 tahun terakhir; kalau dihitung secara statistic Coeffcient of Correlation -nya bahkan lebih dari 90 %.
2. Karena minyak merepresentasikan harga-harga dari barang dan jasa lainnya, maka grafik tersebut juga membuktikan emas tidak pernah kehilangan daya belinya.
3. Selama lebih dari 25 tahun (1945-1971) ketika emas dijadikan standar bagi mata uang melalui Bretton Woods Agreement; ternyata harga minyak relatif stabil karena hanya naik dari US$ 1.6/barrel(1945) menjadi US$ 3.6/barrel (1971) saja. Seandainya Amerika Serikat tidak mengingkari Bretton Woods Agreement maka harga minyak mentah dunia saat ini hanya sekitar US$ 7/barrel.
4. Ketika gold standard ditinggalkan, berupa pengingkaran Bretton Woods Agreement oleh pemrakarsanya sendiri – Amerika Serikat; maka mulai saat itulah harga minyak dan harga emas bergejolak tidak terkendali sampai sekarang.
5. Ternyata uang kertas hanya memiliki daya beli yang relatif stabil apabila dikaitkan dengan emas. Lantas mengapa bersusah payah membuat uang kertas kalau reliability -nya harus dikaitkan dengan emas ?.
Kalau toh data yang 60 tahun lebih ini yang kita pakai (saya sendiri sebenarnya prefer yang 1400 tahun harga kambing sebagai bukti ! ), maka terbukti bahwa emas-lah uang yang sesungguhnya itu; bukan US$ , Rupiah atau mata uang kertas lainnya.
Hari-hari ini harga emas lagi rendah, namun harga minyak juga rendah, harga saham juga sangat rendah, yang tinggi hanya harga US$...jadi Anda bisa simpulkan sendiri mana yang sebenarnya lagi tidak bener. Ingat timbangan badan di kamar hotel yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Wallahu A’lam.











0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home