Gold Dinar to
Buy Dinar etc.
 
Daftar Harga Gerai Dinar
   17 - Mar - 2011 Jam 12 : 30  
  (Rupiah/Unit)
Item Jual Beli
Dinar/Dirham
Dinar 1,711,420 1,642,963
Dirham 24,000 23,040
Emas *
24 K 396,565 380,702
22 K 363,518 341,707
20 K 330,471 304,033
18 K 297,424 267,681
   
*Diluar Biaya Cetak

Catatan:
1. Penjelasan Harga Emas/Dinar di Gerai Dinar

2. Jam Transaksi : 07:00 - 17:00 BBWI (Kecuali Hari Libur)

GoldCheck; Emas Pro Pastikan dan Produktifkan

Tuesday, October 7, 2008

Kemana Menghilangnya Likwiditas (Uang Kertas) ... ?

Ini adalah pertanyaan awam yang muncul hampir di seluruh dunia sekarang menyangkut banyaknya bank-bank dan lembaga keuangan besar yang berjatuhan. Bank-bank dan lembaga keuangan tersebut berjatuhan rata-rata adalah karena kesulitan likwiditas.

Mengapa kesulitan likwiditas ini berlaku serentak ? bukankah namanya likwiditas seharusnya menyerupi sifat air (liquid = cairan ) yaitu kalau tidak ada di suatu tempat (bank) mestinya mengalir ketempat (bank) lain ?, kenapa krisis likwiditas selalu serentak/bersamaan...?.

Logika awamnya memang demikian, tetapi bukan logika awam ini yang berlaku di dunia perbankan dan keuangan global.

Mayoritas likwiditas dunia perbankan adalah bukan dari uang seperti yang kita kenal uang kertas dan uang logam , tetapi dari uang bank yang dihasilkan melalui suatu proses penciptaan uang (money creation) nan canggih dalam sebuah system perbankan yang disebut Fractional Reserve Banking.

Berikut illustrasinya :

Fractional Reserve Banking Asumsikan Anda punya uang Rp 1 Milyar dan Anda taruh di Bank A, maka sebagai contoh di Indonesia Bank A hanya wajib mencadangkan 5%-nya atau Rp 50 juta. Selebihnya Rp 950 juta oleh Bank A dapat dipinjamkan ke Bank B. Karena bank B juga hanya wajib mencadangkan 5%-nya atau Rp 47.5 juta, maka dari uang pinjaman tersebut bank B dapat meminjamkan lagi ke Bank C sebesar 95%nya tau Rp 902.5 juta. Bank C kemudian meminjamkannya lagi ke Bank D, D ke E dst-dst.

Secara teoritis uang yang tadinya hanya Rp 1 Milyar melalui Fractional Reserve Banking dengan minimum reserve 5 % berpotensi menghasilkan likwiditas berupa uang bank yang besarnya 20 kali lipat atau Rp 20 Milyar.

Dampak sebaliknya juga terjadi, bila Rp 1 Milyar uang Anda tersebut Anda tarik dari Bank A – maka seluruh system perbankan berpotensi kehilangan likwiditas bukan hanya Rp 1 Milyar melainkan Rp 20 Milyar uang bank yang tercipta melalui system perbankan yang ‘brilliant’ yang disebut Fractional Reserve Banking tersebut !.

Bayangkan kalau banyak orang yang mempunyai uang seperti Anda menarik uangnya rame-rame dari perbankan, pastilah bank yang sekuat apapun akan collapse.

Jadi yang terjadi dalam krisis likwiditas global sekarang bukan karena likwiditas mengalir dari satu tempat ke tempat lain – seperti mengalirnya air, melainkan likwiditas yang tadinya memang tidak ada atau hanya ‘semu’ kembali menjadi tidak ada.

Selama system perbankan mengadopsi system Fractional Reserve Banking maka kebangkrutan satu bank akan selalu menyeret seluruh industri perbankan. Atas alasan ini negara-negara di dunia selalu mati-matian menyelamatkan Bank yang lagi bermasalah, karena kalau tidak diselamatkan dampak yang lebih buruk akan terjadi.

Inilah bedanya system keuangan perbankan ribawi dengan system Dinar. Dalam system keuangan ribawi – perbankan selalu menjadi awal musibah atau penyebab dalam setiap krisis; ingat krisis di Indonesia 97/98 dan juga krisis di Amerika saat ini.

Sebaliknya dalam sejarah keuangan berbasis Dinar, Sharf (tempat penukaran uang Dinar di zaman kekhalifahan) sering bertindak menyelamatkan negara dengan memberi pinjaman pada negara pada saat negara mengalami krisis keuangan karena perang dlsb.

Kalau sekarang saya tawarkan system Dinar untuk mengatasi krisis keuangan global yang sedang terjadi....maka para ekonom yang canggih-canggih akan mentertawakan saya; tetapi karena solusi ribawi yang mereka cari just not exist ... maka hanya waktu-lah yang akan membuktikan bahwa ketika kepepet tidak ada solusi lain – manusia akan selalu kembali ke solusi yang fitrah.

Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (QS 31:32)

Labels:

4 Comments:

Blogger oki said...

Assalamualaikum Pak Iqbal,

apakah bank syariah (iB) di Indonesia masih menerapkan uang "semu" ini, dalam artian tidak punya cadangan emas(dinar)? Karena ada banyak kecaman, yang menghujat keberadaan iB bahwa tidak ada bedanya dengan perbankan konvensional?

October 7, 2008 2:16 PM  
Blogger M. Iqbal said...

...Sayangnya jawabannya Iya memang demikian untuk pertanyaan Anda...; lebih jauh saya sarankan Anda membaca buku yang ditulis oleh rekan saya Ketua Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia Bpk Riawan Amin dengan Judul 'Satanic Finance' yang menjelaskan lebih luas dalam masalah ini.

Meskipun demikian dalam konteks keberpihakan, setiap ada pilihan saya lebih suka menggunakan bank yang paling tidak berniat mengikuti syariah ( baru menuju ke arah syariah) ...daripada yang jelas-jelas menikmati ke-riba-annya....

October 7, 2008 2:55 PM  
Blogger oki said...

Oke pak, apakah mungkin suatu saat kita membuat lembaga keuangan yang completely berfondasi syariah.artinya jumlah kekayaan intrinsik bank sama dengan ekstrinsik nya. Bagaimana dengan UU dan regulasi BI sendiri, tentang penggunaan rupiah sebagai satu-satunya uang tukar sah. Sebenarnya apa kesulitan bagi bank/calon bank? Bukannya banyak investor kaya yang shaleh di Indonesia.

APakah bisa kita tidak hanya menjadi penerbit dinar, namun juga kita menyediakan tempat jual beli yang ada logo "Dinar accepted" nya.

Sepertinya masih jauh pe er nya ya pak. APalagi kalau mau menintegrasikan dinar ke sektor riil.

Apakah kita masih bisa optimis?

October 7, 2008 4:19 PM  
Blogger M. Iqbal said...

Jawabannya ada di tulisan saya tanggal 20 Agustus 2008 dengan judul Batu Bata Bangunan (Ekonomi) Islam....

Pertama kita harus optimis, karena kabar tentang akan berjayanya Islam sekali lagi mengikuti Manhaj Nubuwah...bukan sekedar prediksi seorang ekonom atau seorang futurolog...tetapi kabar langsung dari Rasulullah SAW. (HR Ahmad 17680).

Kedua pada saat hal itu terjadi entah kapan; tentu system keuangan yang ada bukan yang ribawi seperti yang sekarang ada..., uang bukan US$ - Rupiah atau uang yang tidak adil lainnya.

Ketiga karena keyakinan saya bahwa hal itu (periode manhaj nubuwah) sungguh akan terjadi, maka saya tinggal memilih ikut berperan menyiapkannya atau menjadi koidun yaitu duduk-duduk tanpa berbuat apa-apa.

Keempat : apa yang saya bisa perbuat/perankan untuk pekerjaan yang begitu besar cakupannya dan mungkin perlu waktu yang sangat lama pula ?...saya hanya akan berperan sebagai salah satu batu bata dalam bangunan Islam...berperan apa yang saya bisa pada zaman dan rentang usia yang diberikanNya pada saya...peran lainnya biarlah diperankan oleh yang orang lain bisa...pada zamannya masing-masing.

Bangunan Islam akan terbentuk kembali dengan atau tanpa peran kita...saya hanya ingin menjadi salah satu batu bata yang kokoh dalam bangunan tersebut....dan ingin pula mengajak orang lain untuk menjadi batu bata lainnya ...semakin banyak yang terlibat maka akan semakin cepatlah bangunan tersebut terbentuk.

Wallahu A'lam.

October 7, 2008 8:46 PM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home