Mencermati Perkembangan Harga Emas Dengan Harga Minyak....
Akhir tahun lalu saya menulis tentang Bukti Kestabilan Daya Beli Dinar Terhadap Minyak Mentah. Rasanya saya perlu memperbarui tulisan tersebut dengan perkembangan terakhir terhadap harga emas dan harga minyak mentah dunia.
Tulisan-tulisan saya semacam ini sama sekali tidak bermaksud meramalkan apa yang akan terjadi, melainkan hanya sebatas upaya memahami apa yang sedang terjadi. Dengan memahami fenomena apa yang sedang terjadi ini insyaallah kita akan dapat membangun ketahanan ekonomi yang lebih baik.
Kali ini saya akan gunakan statistik harga emas selama empat puluh tahun terakhir 1968-2008 (dalam US$ /troy oz) dibagi dengan harga minyak mentah dunia pada periode yang sama (dalam US$/ barrel). Hasilnya saya sajikan dalam bentuk grafik disamping yang kita sebut saja Gold Oil Ratio (GOR).
Dari grafik di atas kita bisa tahu bahwa angka GOR terendah dalam 40 tahun terkahir terjadi saat ini yaitu pada angka 7.15 ; sebelum ini angka terendah tercapai hampir 30 tahun lalu yaitu tahun 1979 pada angka 8.05.
Angka GOR 8.05 yang terjadi pada tahun 1979 kita tahu penyebabnya yaitu krisis Amerika vs. Iran yang puncaknya terjadi penyanderaan warga negara Amerika di Teheran. Arti angka ini adalah saat itu harga minyak sangat mahal, atau sebaliknya harga emasnya yang sangat murah, masing-masing harga relatif terhadap yang lain.
Nah sekarang angka GOR itu berada pada angka 7.15 yaitu angka yang bahkan jauh lebih rendah dari angka tahun 1979. Apapula artinya ?; sama dengan kejdian tahun 1979 diatas – bahwa saat ini harga minyak yang kelewat mahal atau harga emas yang kelewat murah.
Kalau kita lihat rata-rata 40 tahun terakhir angka GOR ini berada pada angka 15; maka apa yang akan terjadi apabila angka GOR yang sekarang 7.15 akan terkoreksi kembali ke angka rata-rata 15 tersebut ? . Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi ;
1) Karena harga minyaknya yang ketinggian, kita berharap angka minyaknya yang terkoreksi turun. Dengan harga emas sekarang US$ 905/troy oz ; maka kalau mengikuti kaidah rata-rata 40 tahun ini harga minyak harusnya ‘cuma’ US$ 60 /barel.
2) Kalau harga emasnya yang dianggap kerendahan, maka pada tingkat harga minyak yang US$ 126.65/ barrel sekarang , harga emas rata-rata dapat mencapai US$ 1,900/troy oz. Kalau ini yang terjadi maka harga 1 Dinar dapat mencapai Rp 2,400,000.
Kita tentu berharap kemungkinan yang pertama yang terjadi ; namun rasanya tidak realistis kita mengharapkan harga minyak turun menjadi kurang dari separuh dari yang sekarang.
Sebaliknya kalau kemungkinan yang kedua yang terjadi - karena emas merepresentasikan harga-harga komoditi lain – maka kita perlu waspadai ancaman lonjakan harga-harga kebutuhan kita.
Masih ada juga kemungkinan ketiga; yaitu bercerainya harga minyak dengan harga emas – artinya keduanya tidak lagi saling terkait. Kalau ini yang terjadi berarti minyak sedang menuju kepunahan, untuk yang inipun kita harus antisipasi dengan berbagai energy alternatif.
Kemungkinan keempat adalah kombinasi dari ketiganya – artinya kita tetap harus siap menghadapi apapun yang terjadi. Wallahu A’lam.
Disclaimer :
Meskipun seluruh tulisan dan analisa di blog ini adalah produk dari kajian yang hati-hati dan dari sumber-sumber yang umumnya dipercaya di dunia bisnis, pasar modal dan pasar uang; kami tidak bertanggung jawab atas kerugian dalam bentuk apapun yang ditimbulkan oleh penggunaan analisa dan tulisan di blog ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menjadi tanggung jawab pembaca sendiri untuk melakukan kajian yang diperlukan dari sumber blog ini maupun sumber-sumber lainnya, sebelum mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan investasi emas, Dinar maupun investasi lainnya.
Tulisan-tulisan saya semacam ini sama sekali tidak bermaksud meramalkan apa yang akan terjadi, melainkan hanya sebatas upaya memahami apa yang sedang terjadi. Dengan memahami fenomena apa yang sedang terjadi ini insyaallah kita akan dapat membangun ketahanan ekonomi yang lebih baik.
Kali ini saya akan gunakan statistik harga emas selama empat puluh tahun terakhir 1968-2008 (dalam US$ /troy oz) dibagi dengan harga minyak mentah dunia pada periode yang sama (dalam US$/ barrel). Hasilnya saya sajikan dalam bentuk grafik disamping yang kita sebut saja Gold Oil Ratio (GOR).Dari grafik di atas kita bisa tahu bahwa angka GOR terendah dalam 40 tahun terkahir terjadi saat ini yaitu pada angka 7.15 ; sebelum ini angka terendah tercapai hampir 30 tahun lalu yaitu tahun 1979 pada angka 8.05.
Angka GOR 8.05 yang terjadi pada tahun 1979 kita tahu penyebabnya yaitu krisis Amerika vs. Iran yang puncaknya terjadi penyanderaan warga negara Amerika di Teheran. Arti angka ini adalah saat itu harga minyak sangat mahal, atau sebaliknya harga emasnya yang sangat murah, masing-masing harga relatif terhadap yang lain.
Nah sekarang angka GOR itu berada pada angka 7.15 yaitu angka yang bahkan jauh lebih rendah dari angka tahun 1979. Apapula artinya ?; sama dengan kejdian tahun 1979 diatas – bahwa saat ini harga minyak yang kelewat mahal atau harga emas yang kelewat murah.
Kalau kita lihat rata-rata 40 tahun terakhir angka GOR ini berada pada angka 15; maka apa yang akan terjadi apabila angka GOR yang sekarang 7.15 akan terkoreksi kembali ke angka rata-rata 15 tersebut ? . Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi ;
1) Karena harga minyaknya yang ketinggian, kita berharap angka minyaknya yang terkoreksi turun. Dengan harga emas sekarang US$ 905/troy oz ; maka kalau mengikuti kaidah rata-rata 40 tahun ini harga minyak harusnya ‘cuma’ US$ 60 /barel.
2) Kalau harga emasnya yang dianggap kerendahan, maka pada tingkat harga minyak yang US$ 126.65/ barrel sekarang , harga emas rata-rata dapat mencapai US$ 1,900/troy oz. Kalau ini yang terjadi maka harga 1 Dinar dapat mencapai Rp 2,400,000.
Kita tentu berharap kemungkinan yang pertama yang terjadi ; namun rasanya tidak realistis kita mengharapkan harga minyak turun menjadi kurang dari separuh dari yang sekarang.
Sebaliknya kalau kemungkinan yang kedua yang terjadi - karena emas merepresentasikan harga-harga komoditi lain – maka kita perlu waspadai ancaman lonjakan harga-harga kebutuhan kita.
Masih ada juga kemungkinan ketiga; yaitu bercerainya harga minyak dengan harga emas – artinya keduanya tidak lagi saling terkait. Kalau ini yang terjadi berarti minyak sedang menuju kepunahan, untuk yang inipun kita harus antisipasi dengan berbagai energy alternatif.
Kemungkinan keempat adalah kombinasi dari ketiganya – artinya kita tetap harus siap menghadapi apapun yang terjadi. Wallahu A’lam.
Disclaimer :
Meskipun seluruh tulisan dan analisa di blog ini adalah produk dari kajian yang hati-hati dan dari sumber-sumber yang umumnya dipercaya di dunia bisnis, pasar modal dan pasar uang; kami tidak bertanggung jawab atas kerugian dalam bentuk apapun yang ditimbulkan oleh penggunaan analisa dan tulisan di blog ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menjadi tanggung jawab pembaca sendiri untuk melakukan kajian yang diperlukan dari sumber blog ini maupun sumber-sumber lainnya, sebelum mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan investasi emas, Dinar maupun investasi lainnya.
Labels: Gold/Oil Ratio











2 Comments:
Ass.WrWb
Menurut Analisa pribadi saya pak, kemungkinan yg No 2 yang paling Realistis...mengapa ?
Kemungkinan No 1 Tidak akan terjadi karena memang Investor yg Rugi Di Sub Prime akan lari ke Komodias yg menguntungkan agar dapat balik Modal, selama USD bermasalah mereka akan betah di sana..harga-harga akan terus gonjang ganjing
Kemungkinan No 3 tidak juga sebab cadangan minyak OPEC saja (diluar Non OPEC) lebih dari Cukup mencapai 900 Milyar Barel, kalau boros mencapai 1 milyar barel/ tahun saja , maka minyak akan habis 900 tahun (data OPER.org)
Yang pasti harga emasnya terlalu murah alias dipermainkan oleh Kartel Emas...ada penggelembungan jumlah emas seolah emas melimpah padahal sedikit, dan ada rekayasa angka inflasi....
Wasalam
Sellbuydinar.blogspot.com
Bisa jadi Pak...;
Mungkin ini yang sedang terjadi hari-hari ini...
Wassalam,
Iqbal
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home